Selasa, 08 Sep 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Nasional
Nasional

Investor Lirik Sagu SBT, PT Permata Lintas Nusabangsa Siapkan Hilirisasi dengan Modal Internasional

✍️ Asosiasi Media Konvergensi Indonesia 🕒 08 Sep 2026 👁️ 5x dibaca
Direktur Utama PT Permata Lintas Nusabangsa Dr. Eddy Limantoro bersama tim meninjau potensi tanaman sagu di sejumlah wilayah Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Maluku, Jumat (4/9/2026), sebagai bagian dari tahapan awal persiapan investasi hilirisasi sagu.
Direktur Utama PT Permata Lintas Nusabangsa Dr. Eddy Limantoro bersama tim meninjau potensi tanaman sagu di sejumlah wilayah Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Maluku, Jumat (4/9/2026), sebagai bagian dari tahapan awal persiapan investasi hilirisasi sagu. Foto: Tim Dokumentasi Lapangan

BULA, SERAM BAGIAN TIMUR – Potensi sagu di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Maluku, mulai mendapat perhatian serius dari investor. PT Permata Lintas Nusabangsa menyatakan kesiapan berinvestasi untuk mendorong hilirisasi sagu dengan membuka kolaborasi permodalan internasional.

Komitmen tersebut disampaikan Direktur Utama PT Permata Lintas Nusabangsa, Dr. Eddy Limantoro, setelah meninjau potensi sagu di sejumlah wilayah SBT, Jumat (4/9/2026).

Kunjungan didampingi Dinas Pertanian SBT di bawah Kepala Dinas Pertanian Sofyan Waraiya, S.P., bersama sejumlah staf serta Ketua KADIM Kabupaten SBT. Tim investor juga diikuti Sago Man Abo, Direktur Regional Purwoko, Direktur Keuangan Jonhi Hendri, serta Direktur sekaligus Manajer Regional Maluku dan Maluku Utara, Drs. Tanjur Ulath.

Potensi Sagu Dinilai Besar

Peninjauan dilakukan di Kecamatan Teluk Waru, meliputi Desa Dawang, Belis, dan Karai, kemudian dilanjutkan ke Desa Gaa, Kecamatan Tutuk Tolu.

Eddy mengatakan kunjungan lapangan menjadi bagian dari tahapan awal persiapan investasi setelah pihaknya melihat besarnya potensi sagu yang dimiliki SBT.

“Kami merencanakan untuk melakukan investasi di Kabupaten Seram Bagian Timur terkait sagu yang menjadi salah satu program pemerintah daerah. Kami melihat potensinya sangat luar biasa,” kata Eddy.

Menurut dia, keunggulan SBT tidak hanya pada jumlah tanaman sagu, tetapi juga karena sebagian kawasan sagu relatif dekat dengan permukiman dan akses jalan. Kondisi tersebut dinilai dapat mempermudah mobilisasi bahan baku sekaligus membuka peluang keterlibatan masyarakat.

“Ini berbeda dengan daerah lain. Kadang kita harus masuk jauh ke hutan belantara baru menemukan tanaman sagu. Di SBT, kita melihat sendiri pohon-pohon sagu sangat melimpah dan sebagian berada dekat dengan permukiman serta jalan,” ujarnya.

Data Lapangan Buka Peluang Pengembangan Industri

Eddy menyebut hasil peninjauan menemukan potensi sagu di lapangan yang menurutnya lebih besar dibandingkan data yang sebelumnya diterima investor.

“Data yang diberikan kepada kami ternyata sangat berbeda dengan fakta lapangan. Fakta di lapangan menunjukkan masih banyak potensi sagu yang belum atau tidak sempat didata,” katanya.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi peluang sekaligus menunjukkan pentingnya pembaruan data potensi sagu untuk menghitung ketersediaan bahan baku dan menentukan kapasitas industri secara tepat.

PT Permata Lintas Nusabangsa, kata Eddy, tidak hanya ingin mengambil atau menjual bahan mentah sagu. Perusahaan berencana membawa teknologi pengolahan untuk menghasilkan berbagai produk turunan dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

“Tidak ada barang sisa dari sagu. Semuanya harus memiliki makna dan nilai jual. Kami akan membawa teknologi yang nantinya menjadi fasilitas untuk memberikan nilai tambah pada pabrik sagu dan memproses berbagai produk turunannya,” jelas Eddy.

Hilirisasi Sagu Diharapkan Buka Lapangan Kerja

Eddy juga menilai sagu dapat dikembangkan sebagai salah satu alternatif pangan untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras.

Ia berharap investasi tersebut tidak hanya membangun industri, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat SBT melalui lapangan kerja, aktivitas ekonomi, dan sumber pendapatan baru.

“Kami ingin kehadiran kami juga membantu ekonomi dan kesejahteraan masyarakat SBT. Sagu ini sangat berpotensi mensejahterakan masyarakat. Karena itu kami ingin menggunakan sagu sebagai salah satu solusi untuk ketahanan pangan nasional,” kata Eddy.

Masyarakat, lanjut dia, diharapkan tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi dapat terlibat dalam ekosistem industri sagu yang dikembangkan.

MoU dengan BUMD, Investasi Masih Tahap Persiapan

Eddy mengungkapkan PT Permata Lintas Nusabangsa telah melakukan kesepakatan atau MoU dengan BUMD Kabupaten SBT. Menurutnya, kesepakatan tersebut telah ditandatangani oleh Bupati SBT Fachri Husni Alkatiri.

Meski demikian, perusahaan saat ini masih berada pada tahap persiapan teknis. Sejumlah aspek perlu diselesaikan sebelum investasi memasuki tahap pelaksanaan, termasuk desain kapasitas industri, kajian lingkungan, serta pemenuhan persyaratan dan perizinan.

“Kami sekarang melakukan desain kapasitas dan memenuhi semua persyaratan, seperti AMDAL dan ketentuan lainnya yang berlaku,” ujarnya.

Eddy menegaskan perusahaan merupakan perusahaan berbasis di Indonesia. Namun, untuk memperkuat pembiayaan investasi, pihaknya membuka kolaborasi dengan investor internasional.

“Kami ini perusahaan lokal, tetapi kami mengumpulkan modal dari internasional. Perusahaan tetap di Indonesia dan kami berkolaborasi dengan investor internasional,” tegasnya.

Menurut Eddy, sejumlah investor internasional juga menunjukkan ketertarikan terhadap peluang investasi di SBT, termasuk kemungkinan kerja sama di luar sektor sagu.

Forum Sagu Internasional Disiapkan November 2026

Untuk memperkuat promosi sagu sebagai komoditas strategis, PT Permata Lintas Nusabangsa juga menyiapkan rencana Forum Sagu Internasional pada November 2026.

Forum tersebut diharapkan mempertemukan pemerintah, akademisi, investor, dan pemangku kepentingan untuk membahas pengembangan sagu.

Eddy mengatakan forum sebelumnya direncanakan berlangsung di Ambon. Namun, karena belum adanya kesediaan Universitas Pattimura sebagai lokasi penyelenggaraan, pihaknya mempertimbangkan Jakarta atau Bogor sebagai alternatif.

“Kami mencoba membangkitkan kembali forum itu. Rencananya pada November akan ada forum internasional dan kami ingin mempertemukan berbagai pihak untuk mendorong pengembangan sagu,” katanya.

Hilirisasi Menunggu Langkah Konkret

Kunjungan investor tersebut menunjukkan potensi sagu SBT mulai dilihat sebagai komoditas yang dapat dikembangkan menjadi industri bernilai tambah.

Namun, peluang tersebut tetap membutuhkan langkah konkret, antara lain pembaruan data potensi sagu, perhitungan ketersediaan bahan baku, kajian lingkungan, penyesuaian kapasitas industri, serta pemenuhan seluruh perizinan sesuai ketentuan.

Jika tahapan tersebut dapat diselesaikan secara transparan dan terukur, hilirisasi sagu berpotensi menjadi salah satu penggerak ekonomi baru di SBT.

Harapannya, sagu yang selama ini tumbuh melimpah di SBT tidak berhenti sebagai potensi, tetapi dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi, membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta mendukung ketahanan pangan daerah dan nasional.(/Red)*

A
AdminEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update