Dosen UHAMKA Nurlina Rahman Latih Public Speaking Siswa SMKN 8 Jakarta, Bangun Percaya Diri dan Personal Branding
JAKARTA — Kemampuan berkomunikasi dan membangun kepercayaan diri menjadi bagian penting dalam mempersiapkan siswa menghadapi dunia pendidikan maupun dunia kerja. Hal tersebut menjadi fokus workshop “Strategi Pengembangan Kompetensi Personal Branding dalam Retorika Public Speaking” yang digelar di SMK Negeri 8 Jakarta, Senin (24/8/2026).
Workshop menghadirkan Dr. Nurlina Rahman, S.Pd., M.Si., pembicara dan public speaker, pewara/MC profesional, Ketua I Lembaga Seni Budaya (LSB) PWM DKI Jakarta, sekaligus Wakil Ketua Afiliasi Pengajar, Peneliti, Budaya, Bahasa, Sastra, Komunikasi, Seni dan Desain (APEBSKID) Komisariat DKI Jakarta periode 2024–2028.
Kegiatan diikuti 72 siswa dari jurusan Manajemen Perkantoran (MP) dan Manajemen Logistik (Manlog). Materi diarahkan untuk membantu siswa mengenali potensi diri, membangun personal branding, serta meningkatkan keterampilan komunikasi dan public speaking.
Kepala SMKN 8 Jakarta: Belajar Harus Menjadi Pengalaman
Kegiatan dibuka Kepala SMK Negeri 8 Jakarta, Siti Rustini, M.Pd. Dalam sambutannya, ia mengatakan sekolah tidak hanya menjadi tempat memperoleh ilmu, tetapi juga ruang bagi siswa untuk mengembangkan diri dan mendapatkan pengalaman.
“SMKN 8 itu sebagai tempat rekreasi, karena di SMK Negeri 8 itu tempatnya rekreasi mencari ilmu, karena belajar itu tidak menjadi beban,” ujar Siti Rustini.
Ia berharap materi yang diberikan dapat menambah wawasan sekaligus membangun semangat siswa dalam mengembangkan kemampuan komunikasi.
“Semoga materi yang dikasih menjadi ilmu buat teman-teman semua dan juga menjadi semangat. Dengan adanya komunikasi kita dapat berbaur dan dapat ilmu serta wawasan dan juga teman ketika berkomunikasi,” tuturnya.
Menurut Siti, keterampilan komunikasi juga memiliki peran penting dalam berbagai bidang, termasuk dunia perkantoran, sehingga perlu dikembangkan sejak bangku sekolah.
Nurlina Ajak Siswa Kenali Potensi Diri
Memasuki sesi utama, Nurlina terlebih dahulu menggali pengalaman peserta dalam berorganisasi maupun kegiatan yang berkaitan dengan public speaking.
Sejumlah siswa diketahui telah memiliki pengalaman tampil di depan publik, antara lain sebagai petugas upacara, pengibar bendera, pembaca Undang-Undang Dasar, pembaca doa, hingga pembawa acara.
Salah satu peserta, Fairuz, bahkan mendapat kesempatan mempraktikkan peran sebagai pembawa acara dalam kegiatan pengibaran bendera.
Nurlina kemudian menjelaskan bahwa membangun personal branding diawali dengan kemampuan mengenali diri sendiri, termasuk kepribadian, kelebihan, kekurangan, nilai, karakter, dan pengalaman.
Menurutnya, personal branding merupakan gambaran atau penilaian seseorang di hadapan publik dalam menampilkan kepribadian serta nilai-nilai yang menjadi ciri khas dirinya.
Ia menjelaskan, personal branding dapat memberikan sejumlah manfaat, antara lain meningkatkan kepercayaan orang lain, membuka peluang kerja, dan memperluas relasi.
Untuk membantu peserta mengenali diri, Nurlina menggunakan sejumlah aktivitas sederhana, termasuk menggali warna kesukaan dan hobi para siswa.
Peserta menyebutkan berbagai hobi, seperti memasak, memancing, bermain karambol, dan berenang.
“Apapun hobi yang kalian minati, kalian kerjakan dengan semangat, karena hobi bisa menjadikan kita ke profesi,” tuturnya.
Public Speaking Bukan Sekadar Berani Bicara
Selain personal branding, Nurlina menjelaskan konsep dan penerapan retorika public speaking dalam berbagai bentuk komunikasi.
Menurutnya, retorika public speaking merupakan seni menyampaikan pesan, ide, dan gagasan kepada publik. Kemampuan tersebut dapat diterapkan dalam pidato, sambutan, presentasi, kampanye, ceramah, khotbah atau dakwah, orasi, storytelling, stand up, hingga menjadi pewara atau pembawa acara.
Nurlina menekankan bahwa kemampuan berbicara perlu diimbangi dengan kemampuan mendengarkan.
“Salah satu kunci sukses berkomunikasi adalah kemampuan kita untuk mendengarkan, karena dengan mendengarkan kita akan mengolah indera kita memahami, menganalisis, merasakan getaran suara setiap pesan ataupun informasi yang disampaikan oleh orang lain,” jelasnya.
Peserta juga mendapatkan kesempatan mempraktikkan teknik vokal dan berbicara di depan publik.
Salah satunya Shahira Fazilatunnisa, siswi jurusan Manajemen Perkantoran, yang berkesempatan mempraktikkan teks sebagai news anchor. Ia mengaku pengalaman tersebut berkesan karena sejalan dengan cita-citanya.
Siswa Antusias Ikuti Praktik
Antusiasme peserta terlihat dalam sesi diskusi, praktik, dan sharing pengalaman.
Muhammad Rafi Akbar, siswa kelas XI Manajemen Logistik, menilai materi yang diberikan menarik karena disertai pengalaman dan contoh konkret. Ia berharap ilmu komunikasi tersebut terus dibagikan kepada siswa agar semakin banyak yang berani menyampaikan pendapat.
Apresiasi serupa disampaikan Sazkie Azzahra, siswi kelas XI Manajemen Perkantoran. Ia menilai penyampaian materi berlangsung interaktif dan dilengkapi praktik langsung sehingga memberikan pengalaman baru bagi peserta.
Sementara Nabila Apriliani, siswi kelas XI Manajemen Perkantoran, menilai materi yang diberikan menarik dan bermanfaat, terutama untuk membangun keberanian dalam berkomunikasi.
Livia Raisha Putri, siswi kelas XI Manajemen Logistik, mengatakan kegiatan tersebut menyenangkan dan membantu meningkatkan kepercayaan dirinya, khususnya dalam memahami intonasi dan teknik berbicara di depan umum.
Hal senada disampaikan Sabila Khoirun Nisa, siswi kelas XI Manajemen Perkantoran. Menurutnya, public speaking merupakan keterampilan yang relevan dengan jurusannya. Ia mengapresiasi kesempatan praktik langsung yang diberikan selama pelatihan.
Sementara Laila Nur Cahyani, siswi kelas XI Manajemen Perkantoran, mengaku kegiatan tersebut membuka pandangannya bahwa berbicara di depan umum tidak selalu menjadi hal yang menakutkan.
Menurutnya, materi yang diberikan relevan untuk meningkatkan kepercayaan diri ketika melakukan presentasi maupun sebagai persiapan memasuki dunia kerja.
Nurlina Tekankan Pentingnya Konsep Diri Positif
Pada sesi tanya jawab, Saskia Zahra menanyakan cara meningkatkan kepercayaan diri agar tidak mudah merasa khawatir ketika melakukan berbagai aktivitas.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Nurlina mengatakan seseorang tidak mungkin memenuhi harapan semua orang. Karena itu, kepercayaan diri perlu dibangun melalui konsep diri yang positif dan tidak terlalu bergantung pada validasi orang lain.
“Kita tidak bisa memuaskan semua orang. Cara agar kita percaya diri yaitu membangun konsep diri positif dan mengubah mindset yang merusak diri seperti sering mengatakan ‘saya tidak bisa, saya takut, saya tidak mampu’, mengganti dengan afirmasi positif seperti ‘saya bisa, saya akan coba, saya mampu’,” tutur Nurlina.
Ia menilai kebiasaan memberikan afirmasi positif dapat menjadi salah satu upaya untuk memperkuat keyakinan diri dan mendukung pembentukan personal branding yang lebih baik.
Guru: Materi Public Speaking Sangat Relevan
Ketua Program Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis (MPLB) SMK Negeri 8 Jakarta, Yunias Ruwanty, S.Pd., turut memberikan apresiasi terhadap kegiatan tersebut.
Menurutnya, materi yang diberikan cukup detail, mulai dari pengaturan intonasi suara, bahasa tubuh, hingga teknik mengurangi rasa gugup saat berbicara.
Ia berharap pelatihan serupa dapat kembali dilaksanakan dengan materi komunikasi yang lebih mendalam.
Kegiatan kemudian ditutup dengan pembacaan puisi sebagai bagian dari rangkaian acara. Penampilan tersebut mendapat apresiasi peserta karena memadukan pemilihan kata, ekspresi, dan intonasi dalam menyampaikan pesan.
Bekal Komunikasi untuk Dunia Pendidikan dan Kerja
Seluruh rangkaian workshop menjadi ruang bagi siswa untuk belajar mengenali diri, mengembangkan personal branding, serta melatih kemampuan public speaking melalui materi, diskusi, sharing pengalaman, dan praktik langsung.
Antusiasme peserta menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi dipandang relevan dengan kebutuhan siswa, baik untuk kegiatan akademik, presentasi, organisasi maupun persiapan memasuki dunia kerja.
Melalui kegiatan tersebut, siswa tidak hanya didorong untuk berani berbicara di depan publik, tetapi juga memahami pentingnya mengenali potensi diri dan membangun citra positif berdasarkan karakter serta kemampuan yang dimiliki.
