Hindari Sikap Munafik, Heru Riyadi: Kejujuran dan Keterbukaan Jadi Fondasi Bangsa yang Besar
JAKARTA — Kejujuran dan keterbukaan menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun hubungan yang sehat, baik dalam kehidupan bermasyarakat, lingkungan pekerjaan, maupun organisasi.
Sikap tersebut juga menjadi bagian dari refleksi Heru Riyadi, S.H., M.H., Dosen Etika Profesi Fakultas Hukum Universitas Pamulang (FH UnPam) sekaligus Penasehat Asosiasi Media Konvergensi Indonesia (AMKI), mengenai karakter dan etika dalam kehidupan sosial.
Menurut Heru, tidak semua orang yang menunjukkan sikap ramah di hadapan seseorang benar-benar memiliki pandangan yang sama. Namun, perbedaan pendapat yang disampaikan secara terbuka justru dapat menjadi ruang untuk berdiskusi dan melakukan perbaikan.
Orang yang berani mengatakan tidak setuju secara langsung, meskipun terkadang terasa tidak nyaman, dinilai masih memberikan kesempatan bagi pihak lain untuk memahami alasan perbedaan tersebut.
Sebaliknya, persoalan dapat berkembang ketika ketidaksetujuan tidak disampaikan secara terbuka, tetapi justru dibicarakan kepada pihak lain.
Kondisi semacam itu berpotensi menimbulkan kesalahpahaman karena persoalan tidak pernah dibicarakan secara langsung.
Kejujuran Membutuhkan Keberanian
Heru menilai, mengatakan “saya tidak setuju” sering kali membutuhkan keberanian yang lebih besar dibandingkan sekadar berpura-pura sepakat.
Karena itu, menurutnya, ketidaksetujuan tidak semestinya selalu dipandang sebagai ancaman. Perbedaan pendapat dapat menjadi bagian dari proses membangun hubungan yang sehat apabila disampaikan secara proporsional dan berdasarkan alasan yang jelas.
Keterbukaan juga memberikan kesempatan kepada seseorang untuk mengetahui kekurangan atau kesalahan yang mungkin dilakukan.
Sebaliknya, apabila kritik disembunyikan dan ketidaksetujuan hanya disampaikan di belakang, persoalan dapat berkembang menjadi konflik yang sulit dideteksi sejak awal.
“Kejujuran memang membutuhkan keberanian. Mengatakan ‘saya tidak setuju’ sering kali lebih sulit daripada berpura-pura setuju,” demikian refleksi yang disampaikan Heru.
Mengutip Pemikiran Mochtar Lubis
Dalam refleksinya, Heru mengutip pidato kebudayaan Mochtar Lubis yang disampaikan pada 6 April 1977 di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, dan kemudian dibukukan dengan judul Manusia Indonesia.
Dalam pidato tersebut, Mochtar Lubis menguraikan sejumlah karakter yang menurutnya melekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia pada masa itu. Salah satunya adalah sifat hipokrit atau munafik.
Mochtar Lubis menggambarkan sifat tersebut sebagai kecenderungan menampilkan sikap yang berbeda antara apa yang ditunjukkan di hadapan orang lain dan apa yang dilakukan atau dirasakan sebenarnya.
Dalam konteks refleksi Heru, pemikiran tersebut menjadi relevan untuk melihat pentingnya konsistensi antara perkataan, sikap, dan tindakan.
Ia juga menyoroti bahwa sikap tidak jujur terhadap diri sendiri dapat terjadi ketika seseorang menampilkan citra seolah-olah benar atau baik, tetapi melakukan hal yang bertentangan secara diam-diam.
Kritik terhadap Sikap Feodal
Dalam pemikiran Mochtar Lubis yang dikutip Heru, karakter hipokrit tersebut juga dikaitkan dengan pengaruh sistem feodal pada masa lalu.
Dalam situasi tertentu, masyarakat dapat terdorong untuk bersikap pura-pura sebagai bentuk penyesuaian diri, mencari keamanan, atau mendapatkan penerimaan dari pihak yang memiliki posisi lebih tinggi.
Namun, refleksi tersebut tidak berarti setiap bentuk ketidaksetujuan yang disampaikan secara tidak langsung dapat begitu saja dikategorikan sebagai kemunafikan.
Perbedaan karakter, situasi sosial, maupun cara seseorang menyampaikan pendapat tetap perlu dilihat secara proporsional dan berdasarkan konteks.
Kritik dan Keterbukaan dalam Kehidupan Berbangsa
Heru menilai masyarakat perlu membangun budaya komunikasi yang lebih terbuka.
Ketidaksetujuan dapat disampaikan tanpa harus merendahkan pihak lain. Kritik dapat diberikan tanpa menghilangkan rasa hormat. Dengan cara tersebut, perbedaan justru dapat menjadi sarana untuk memperbaiki keadaan.
Menurutnya, hubungan yang sehat—baik dalam pertemanan, pekerjaan maupun organisasi—membutuhkan kepercayaan.
Kepercayaan akan sulit tumbuh apabila komunikasi hanya dibangun melalui kepura-puraan.
Karena itu, yang perlu dihindari bukan sekadar perbedaan pendapat, melainkan pola komunikasi yang menutup ruang dialog dan membuat persoalan berkembang di belakang layar.
Tentang Taufiq Ismail
Dalam tulisannya, Heru juga menyinggung Taufiq Ismail, yang dikenal melalui karya-karya yang banyak mengangkat kritik terhadap moralitas dan kondisi sosial-politik Indonesia.
Salah satu karya yang disebut adalah Malu Aku Jadi Orang Indonesia.
Penyebutan karya tersebut ditempatkan sebagai bagian dari refleksi mengenai kritik sosial dan moralitas, bukan untuk menggeneralisasi karakter seluruh masyarakat Indonesia.
Kejujuran sebagai Modal Membangun Kepercayaan
Pada akhirnya, perbedaan pendapat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan bermasyarakat.
Seseorang tidak harus selalu sepakat dengan orang lain. Namun, perbedaan tersebut idealnya disampaikan dengan jujur, santun, dan bertanggung jawab.
Kritik yang terbuka masih memberikan kesempatan untuk melakukan koreksi. Sebaliknya, ketidakjujuran yang terus disimpan dapat mengikis kepercayaan dan menciptakan konflik yang tidak terlihat.
Dalam konteks kehidupan berbangsa, budaya terbuka dan keberanian menyampaikan pendapat secara bertanggung jawab dapat menjadi salah satu modal untuk membangun masyarakat yang lebih dewasa.
