Jumat, 28 Agt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Daerah
Daerah

Abah Anton Hadiri Pajang Jimat Kasepuhan Cirebon, Dorong Budaya Tetap Hidup di Generasi Muda

✍️ Admin 🕒 28 Aug 2026 👁️ 6x dibaca
Ketua Majelis Adat Sunda (MAS) Jawa Barat, Abah Anton Charliyan, bersama tokoh dan undangan dalam rangkaian tradisi Pajang Jimat di Keraton Kasepuhan Cirebon dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 2026.
Ketua Majelis Adat Sunda (MAS) Jawa Barat, Abah Anton Charliyan, bersama tokoh dan undangan dalam rangkaian tradisi Pajang Jimat di Keraton Kasepuhan Cirebon dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 2026. Foto: (Foto Istimewa)

Tradisi Pajang Jimat di Keraton Kasepuhan Cirebon kembali digelar dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 2026. Ketua Majelis Adat Sunda (MAS) Jawa Barat, Abah Anton Charliyan, turut hadir dan mendorong agar tradisi tersebut terus dilestarikan dengan tetap membawa nilai agama, budaya, nasionalisme, dan kearifan lokal.

CIREBONTradisi Pajang Jimat di Keraton Kasepuhan Cirebon kembali digelar dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 2026. Prosesi budaya yang berlangsung secara turun-temurun itu menjadi bagian dari upaya menjaga tradisi sekaligus memperkuat nilai keagamaan dan kebersamaan. Ketua Majelis Adat Sunda (MAS) Jawa Barat, Abah Anton Charliyan, turut hadir mendampingi Sultan Kasepuhan Cirebon dalam rangkaian kegiatan tersebut. Pajang Jimat merupakan salah satu tradisi yang dilaksanakan di lingkungan Keraton Kasepuhan Cirebon. Prosesi diawali dengan pencucian benda-benda pusaka keraton serta penyiapan sejumlah perlengkapan dan simbol kehidupan. Selanjutnya, benda-benda tersebut diarak dari Bangsal Panembahan menuju Masjid Sang Cipta Rasa. Arak-arakan diiringi selawat Nabi dan pembacaan kitab Barzanji serta diikuti para pangeran, sesepuh keraton, dan abdi dalem. Dalam prosesi tersebut terdapat tujuh kelompok barisan utama yang masing-masing membawa lilin menyala sebagai simbol penerang kehidupan. Selain menjadi bagian dari tradisi budaya, Pajang Jimat juga memiliki makna filosofis yang dikaitkan dengan perjalanan kehidupan manusia. Sejumlah simbol dalam prosesi dimaknai sebagai gambaran tahapan kehidupan, mulai dari kelahiran hingga pembentukan karakter. Sultan Kasepuhan Tekankan Keteladanan Nabi Sultan Kasepuhan Cirebon, Sultan Lukman, mengatakan peringatan Maulid Nabi tidak seharusnya hanya dimaknai sebagai kegiatan seremonial. Menurutnya, nilai utama dari peringatan tersebut adalah bagaimana keteladanan dan akhlak Nabi Muhammad SAW dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. “Jangan hanya sebatas memperingati hari kelahiran saja. Yang paling penting, apakah akhlak mulia Rasulullah sudah hadir dalam diri kita masing-masing,” ujar Sultan Lukman. Ia mengajak masyarakat untuk menghidupkan nilai kejujuran, kesabaran, rendah hati, kepedulian, persaudaraan, dan kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat. Abah Anton: Tradisi Harus Punya Nilai bagi Generasi Muda Sementara itu, Abah Anton Charliyan menilai Keraton Kasepuhan Cirebon memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan adat dan tradisi yang diwariskan para leluhur. Menurutnya, tradisi seperti Pajang Jimat tidak cukup hanya dipertahankan sebagai sebuah ritual, tetapi juga perlu terus menyampaikan nilai dan pesan moral kepada masyarakat, khususnya generasi muda. “Nilai agama, budaya, nasionalisme, dan kecintaan terhadap tanah air merupakan satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan. Semuanya harus menjadi landasan dalam membentuk sikap dan perilaku sebagai warga negara yang baik,” kata Abah Anton kepada awak media. Ia berharap Keraton Kasepuhan Cirebon dapat terus menjadi salah satu pusat pelestarian adat dan tradisi yang memiliki keterkaitan dengan nilai agama, budaya, dan kehidupan kebangsaan. Abah Anton juga menilai pelestarian budaya akan semakin bermakna apabila generasi muda tidak hanya mengenal bentuk ritualnya, tetapi memahami nilai yang terkandung di dalam setiap tradisi. Ditutup Syukuran dan Botram Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan syukuran dan botram atau makan bersama. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari suasana kebersamaan antara pihak keraton, tokoh masyarakat, dan para undangan. Tradisi Pajang Jimat kembali menjadi ruang pertemuan antara budaya dan nilai keagamaan dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, sekaligus menjadi momentum untuk menjaga warisan budaya agar tetap dikenal dan dipahami oleh generasi berikutnya.(red)

A
AdminPemimpin Redaksi
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update