Jumat, 04 Sep 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Nasional
Nasional

Dies Natalis ke-42 Universitas Terbuka: Menjaga Kemandirian Belajar di Era AI

✍️ Admin 🕒 04 Sep 2026 👁️ 5x dibaca
Mohamad Pandu Ristiyono merefleksikan tantangan pendidikan jarak jauh Universitas Terbuka di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI) pada momentum Dies Natalis ke-42.
Mohamad Pandu Ristiyono merefleksikan tantangan pendidikan jarak jauh Universitas Terbuka di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI) pada momentum Dies Natalis ke-42.

TANGERANG -- Socrates pernah gelisah terhadap penemuan tulisan. Dalam Phaedrus, Plato menggambarkan kekhawatiran bahwa ketika pengetahuan dapat disimpan di luar diri manusia, seseorang berisiko tampak berpengetahuan tanpa benar-benar memahami.

Bagi Socrates, pengetahuan bukan sekadar sesuatu yang dapat disimpan, melainkan sesuatu yang harus dihidupkan melalui proses berpikir, bertanya, berdialog, dan menguji diri.

Lebih dari dua ribu tahun kemudian, kegelisahan serupa hadir dalam bentuk yang jauh lebih canggih: kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Jika tulisan memungkinkan manusia menyimpan pengetahuan di luar kepalanya, AI kini mampu melakukan jauh lebih banyak. Teknologi ini dapat membantu mencari informasi, merangkum bacaan, menjelaskan konsep, menerjemahkan bahasa, membandingkan teori, menyusun argumen, bahkan menghasilkan esai dalam hitungan detik.

AI bukan lagi sekadar tempat menyimpan pengetahuan. Ia mampu memproses dan menyajikannya kembali dengan cara yang tampak seolah-olah sedang berpikir bersama manusia.

Di sinilah persoalan pendidikan menjadi jauh lebih kompleks.

Pada Dies Natalis ke-42, Universitas Terbuka (UT) mengusung tema “Mendunia dengan Inovasi, Berdampak untuk Negeri.” Tema tersebut merefleksikan perjalanan UT sebagai pelopor pendidikan jarak jauh yang sejak awal menjadikan teknologi sebagai bagian penting dari upaya memperluas akses pendidikan.

Selama lebih dari empat dekade, teknologi memungkinkan mahasiswa belajar tanpa harus hadir secara fisik di ruang kelas, sekaligus memberi ruang bagi mereka yang menghadapi keterbatasan jarak geografis, pekerjaan, waktu, maupun kondisi sosial.

Namun, kehadiran AI menghadirkan pertanyaan baru yang lebih mendasar:

Apakah teknologi semakin membantu mahasiswa belajar, atau justru perlahan mengambil alih proses belajar itu sendiri?

Dari Kemandirian Belajar ke Ketergantungan Digital

Kemandirian belajar merupakan salah satu ruh pendidikan jarak jauh.

Mahasiswa UT dituntut mampu mengatur waktu, membaca bahan ajar, mencari referensi, memahami konsep, berdiskusi, mengerjakan tugas, serta mengevaluasi pemahamannya sendiri.

Di balik sebuah jawaban yang baik, sesungguhnya terdapat proses intelektual yang panjang: membaca, meragukan, mencari pembanding, menemukan kesalahan, memperbaiki, dan akhirnya memahami.

Proses itulah yang membentuk seorang pembelajar.

Generative AI mengubah lanskap tersebut secara drastis. Sebuah pertanyaan dapat menghasilkan jawaban dalam hitungan detik. Konsep yang sulit dapat dijelaskan dengan bahasa sederhana. Artikel dapat diringkas, kerangka tulisan dapat dibuat, bahkan sebuah esai dapat dihasilkan tanpa mahasiswa mengalami seluruh pergulatan intelektual yang sebelumnya menjadi bagian dari pengalaman belajar.

Di satu sisi, ini merupakan peluang besar.

Bagi mahasiswa UT yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, AI dapat berfungsi seperti “tutor pribadi 24 jam”. AI dapat membantu menjelaskan konsep, memberikan contoh, menjadi teman berdiskusi, serta membuka akses terhadap berbagai kemungkinan sumber pengetahuan.

Dalam konteks pemerataan pendidikan, kemampuan tersebut tentu tidak dapat dipandang sebelah mata.

Namun, persoalannya bukan semata-mata apakah mahasiswa boleh menggunakan AI.

Persoalan sesungguhnya adalah apa yang terjadi ketika mahasiswa berhenti berpikir karena AI.

Di situlah kemandirian belajar berpotensi berubah menjadi ketergantungan pasif.

Ketika tugas tutorial online (tuton), rangkuman, analisis, bahkan argumentasi dapat dibuat secara instan, mahasiswa berpotensi melewati proses penting dalam belajar: mencari, membaca, mempertanyakan, membandingkan, menganalisis, dan membangun pemikiran sendiri.

Teknologi yang seharusnya memperkuat manusia justru berpotensi mengurangi proses yang membuat manusia benar-benar belajar.

Ilusi Pengetahuan

Bahaya terbesar AI dalam pendidikan, dalam pandangan saya, mungkin bukan hanya kesalahan informasi yang dihasilkannya, melainkan ilusi pengetahuan.

Seorang mahasiswa dapat mengumpulkan tugas dengan bahasa akademik yang rapi, argumentasi yang terlihat meyakinkan, dan bahkan memperoleh nilai tinggi. Namun, ketika ditanya kembali mengenai gagasan yang ditulisnya, ia mungkin tidak mampu menjelaskan alasan, sumber, atau logika di balik jawabannya.

Secara administratif, ia tampak mandiri.

Tetapi secara intelektual, ia berisiko telah menyerahkan sebagian kedaulatan berpikirnya kepada algoritma.

Di sinilah pertanyaan Sokratik menjadi penting:

Jika AI yang berpikir dan mahasiswa hanya menyerahkan jawabannya, siapa sebenarnya yang sedang belajar?

Pertanyaan ini bukan serangan terhadap teknologi. Justru sebaliknya, pertanyaan tersebut merupakan ajakan untuk menempatkan teknologi pada posisi yang tepat.

AI seharusnya menjadi mitra berpikir, bukan pengganti berpikir.

Pola belajar yang perlu dibangun bukan sekadar:

Bertanya → Menerima Jawaban → Selesai

Melainkan:

Bertanya → Memahami → Menelusuri Sumber → Memverifikasi → Merefleksikan → Berpikir Mandiri.

Dengan pola tersebut, AI dapat menjadi instrumen untuk memperluas kemampuan intelektual, bukan menggantikannya.

Ketika Ruang Sunyi Menjadi Ujian Etika

Persoalan AI juga tidak dapat dipisahkan dari integritas akademik.

Pendidikan jarak jauh memiliki karakter yang berbeda dengan pembelajaran tatap muka. Mahasiswa belajar di ruang-ruang yang sangat personal: di depan komputer setelah bekerja, di sela-sela mengasuh anak, di rumah, atau di tempat yang jauh dari pusat pendidikan.

Tidak selalu ada dosen yang hadir secara fisik untuk mengawasi setiap proses belajar.

Justru dalam ruang sunyi itulah integritas menemukan batu ujiannya.

Kejujuran bukan hanya diuji ketika seseorang berada di bawah pengawasan banyak mata, tetapi juga ketika ia memiliki kesempatan untuk berbuat curang dan hampir tidak ada orang yang mengetahuinya.

Kehadiran AI membuat persoalan tersebut semakin kompleks. Batas antara “bantuan belajar” dan penggunaan AI secara tidak bertanggung jawab dalam mengerjakan tugas dapat menjadi semakin tipis.

Mahasiswa dapat meminta AI membuat tugas, mengubah gaya bahasa, menyusun argumentasi, atau menghasilkan jawaban yang kemudian diserahkan seolah-olah merupakan hasil pemikiran sendiri.

Jika hal tersebut menjadi kebiasaan, yang terdampak bukan hanya sistem evaluasi.

Yang dipertaruhkan adalah hubungan mahasiswa dengan proses belajarnya sendiri.

Mahasiswa yang menyerahkan seluruh proses berpikir kepada AI mungkin berhasil menyelesaikan sebuah tugas, tetapi belum tentu berhasil menjalani proses pendidikan.

Ia hadir secara administratif, tetapi berisiko absen secara intelektual.

Gelar akademik yang diperoleh tanpa proses belajar yang jujur pada akhirnya berisiko menjadi kemenangan yang hampa. Ketika berhadapan dengan persoalan nyata di masyarakat, dunia kerja, maupun kehidupan profesional, pengetahuan yang tidak pernah benar-benar dipahami akan mudah kehilangan fondasinya.

Bukan Menolak AI, tetapi Menolak Kehilangan Daya Pikir

Karena itu, pilihan UT bukanlah semata-mata antara menerima atau menolak AI.

Pilihan yang jauh lebih penting adalah bagaimana menjadikan AI tetap tunduk pada tujuan pendidikan.

UT memiliki peluang untuk berada di garis depan dalam merumuskan literasi AI akademik. Mahasiswa tidak cukup hanya diajarkan bagaimana menggunakan AI, tetapi juga bagaimana mempertanyakan jawaban AI, memeriksa sumber, mengenali kemungkinan bias, memverifikasi informasi, serta mempertanggungjawabkan hasil penggunaannya.

Pada saat yang sama, sistem evaluasi pembelajaran perlu beradaptasi.

Tugas yang hanya meminta mahasiswa menghafal atau membuat rangkuman sederhana semakin mudah dikerjakan oleh mesin. Karena itu, asesmen dapat diarahkan pada analisis kritis, studi kasus kontekstual, pemecahan masalah nyata, pengalaman lapangan, argumentasi personal, dan refleksi.

Pertanyaan kepada mahasiswa juga perlu berkembang.

Bukan hanya:

“Apa jawaban Anda?”

Tetapi juga:

“Mengapa Anda sampai pada jawaban tersebut?”

“Sumber apa yang Anda gunakan?”

“Apa kelemahan argumentasi Anda?”

“Bagaimana Anda memverifikasi informasi tersebut?”

Dan yang paling penting:

“Apa yang Anda pahami setelah mengerjakan tugas ini?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menggeser orientasi evaluasi dari sekadar produk menuju proses berpikir.

Menjaga Jiwa Pendidikan Jarak Jauh

Teknologi digital telah menjadi bagian penting dari perjalanan UT. Karena itu, inovasi teknologi bukan sesuatu yang perlu ditakuti.

Justru UT memiliki modal historis untuk terus mengambil peran dalam pemanfaatan teknologi, termasuk AI, dalam pendidikan jarak jauh.

Namun, kecanggihan teknologi tidak boleh menjadi tujuan akhir.

Platform yang semakin pintar, bahan ajar yang semakin interaktif, sistem ujian yang semakin canggih, dan AI yang semakin responsif hanyalah alat.

Ruh pendidikan tinggi tetap berada pada manusia: kemampuan berpikir kritis, keberanian bertanya, kedalaman memahami, integritas, dan kebijaksanaan dalam menggunakan pengetahuan.

Inovasi yang berdampak bukanlah inovasi yang membuat manusia semakin sedikit berpikir.

Inovasi yang berdampak adalah inovasi yang membuat manusia mampu berpikir lebih dalam.

Karena itu, pemanfaatan AI di lingkungan UT idealnya mengikuti prinsip sederhana: AI membantu mahasiswa menemukan pertanyaan, bukan mengambil alih jawaban; membantu memahami, bukan menggantikan proses memahami; serta memperluas perspektif, bukan menggantikan penilaian manusia.

Dengan demikian, teknologi tidak mengikis kemandirian belajar, tetapi justru memperkuatnya.

Pertanyaan Sokratik untuk Universitas Terbuka

Empat puluh dua tahun perjalanan UT merupakan sejarah tentang bagaimana teknologi digunakan untuk membuka pintu pendidikan bagi mereka yang sebelumnya menghadapi hambatan jarak, waktu, pekerjaan, dan kondisi geografis.

Kehadiran AI merupakan babak baru dari perjalanan tersebut.

Namun, setiap inovasi perlu disertai pertanyaan etis.

Socrates tidak hidup di zaman internet. Ia tidak mengenal komputer, algoritma, maupun Generative AI. Tetapi pertanyaannya tetap relevan:

Apakah kita benar-benar mengetahui apa yang kita pikir kita ketahui?

Pertanyaan itu kini perlu diarahkan kepada pendidikan tinggi.

Apakah mahasiswa yang mampu menghasilkan jawaban dengan bantuan AI benar-benar memahami jawabannya?

Apakah mahasiswa yang memperoleh nilai tinggi tanpa mengalami proses berpikir yang memadai benar-benar telah belajar?

Dan yang paling penting:

Manusia seperti apa yang akan terbentuk ketika AI melakukan semakin banyak hal untuk kita?

Inilah pertanyaan yang semestinya menyertai perjalanan UT memasuki usia ke-42.

Universitas Terbuka tidak cukup hanya melahirkan lulusan yang mampu menggunakan teknologi. UT perlu terus mendorong lahirnya manusia yang mampu menggunakan teknologi tanpa kehilangan kedaulatan berpikirnya.

Sebab, pada akhirnya, keberhasilan pendidikan bukan semata-mata diukur dari seberapa cepat seseorang memperoleh jawaban, tetapi dari seberapa dalam ia memahami pertanyaan.

Kejayaan sebuah perguruan tinggi juga bukan hanya terletak pada seberapa canggih teknologi yang digunakannya, melainkan pada seberapa tajam akal budi para lulusannya ketika berhadapan dengan realitas.

Di tengah dunia yang semakin dipenuhi jawaban instan, kemampuan untuk berhenti, bertanya, memeriksa, meragukan, dan berpikir sendiri justru menjadi bentuk kemandirian yang paling berharga.

Mendunia dengan inovasi tidak berarti menyerahkan manusia kepada teknologi.

Berdampak untuk negeri tidak dimulai ketika ijazah berada di tangan, tetapi dari setiap proses belajar yang dijalani dengan jujur, kritis, dan bertanggung jawab.

"Selamat Dies Natalis ke-42 Universitas Terbuka.

Teruslah berinovasi, tetapi jangan pernah kehilangan daya kritis. Sebab, teknologi tanpa kebijaksanaan hanya menghasilkan kecepatan, sementara pendidikan harus menghasilkan manusia.

* Penulis: Mohamad Pandu Kristiyono - Pustakawan dan Penulis, Pusdokinfo PJJ, Universitas Terbuka

A
AdminPemimpin Redaksi
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update